Pada tulisan kali ni saya akan memnceritakan
sedikit tentang sikap saya dalam mengakui kesalahan pada diri sendiri. Menurut
saya sikap mengakui kesalahan diri sendiri itu yaitu mengakui kesalahan yan
telah kita perbuat. Contohnya ketika saya berbuat kesalahan dengan teman saya,
mulai ddari kesalahan kecil contohnya saya sebelumnya telah membuat janji sama
teman saya untuk pergi ke suatu tempat ternyata tiba tiba saya pergi bersama
keluarga tanpa memberitahukan kepada teman saya bahwasanya saya tidak bisa hari
itu, dan teman saya sudah lama menunggu saya di rumahnya , dan akhirnya saya
tak kunjung datang sehingga membuat teman saya menjadi kesal. Dan akibat saya
tidak memberitahukan kepada teman saya itu membuat teman saya marah sama saya,
sehingga saya meminta maaf kepada teman saya tersebut dan mengakui semua
kesalahan saya yang diperbuat kepada dia.
Contohnya lagi saya membuat kesalahan kepada orang
tua saya yaitu nilai saya yang turun sehingga membuat orang tua saya kecewa, disitu
saya membuktikan kembali kepada orang tua saya dengan cara belajar dengan
sungguh sungguh dan akhirnya saya mencapai target dan mendapatkan nilai yang
memuaskan kembali. Disana orang tua saya yang dulunya kecewa dengan hasil belajar
saya hingga akhirnya dia sangat bangga terhadap saya soalnya saya telah
mmbuktikan terhadap orang tua saya kalau hasil nilai belajar saya sudah naik
kembali.
Banyak hak yang telah saya lakukan dalam menakui
kesalahan diri sendiri contohnya kalau saya merasaada yang salah sama diri saya
sendiri saya biasanya berdoa kepada tuhan dan kalau misalkan saya masih belum
tau salah saya dimana biasanya saya menanyakan kepada orang tersebut untuk
memberu tau apa saja kesalahan yang telah saya lakukan kepada dia. dan
selanjutnya saya pasti akan langgsung meminta maat kepada teman saya tersebut,
kalau kesalahan yan saya perbuat itu ga bisa dimaafkan sama teman saya, maka
saya akan terus mencoba untuk terus meminta maaf kepada teman saya sampai dia
memafkan saya .
Mengakui kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri
tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang, butuh keberanian besar
dan rasa tanggung jawab. Oleh karena itu hanya orang bermental dewasa-lah yang
mampu mengakui kesalahannya sendiri.
Anak-anak biasanya lebih senang melemparkan kesalahan
pada orang lain dan menganggap diri sendiri hanyalah korban, atau menangis
tatkala dikatakan bersalah, atau mencari 1001 alasan logis maupun tidak logis
untuk membuktikan bahwa dirinya tak bersalah—padahal sebenarnya bersalah.
padahal kalau kita mau sadar... mengakui kesalahan
bukanlah sebuah kehinaan, justru itu adalah lambang keberanian, “kejantanan”,
bahkan simbol dari pertobatan, mana ada orang yang mengaku tobat tanpa terlebih
dulu mengaku salah? Jika ia mau benar-benar bertobat, seharusnya diawali dengan
perasaan bersalah dan menyesal, iya dong? Dengan kata lain, orang yang tidak
berani mengaku kesalahan yang diperbuatnya sebenarnya sama sekali tidak
bermaksud bertobat.
hanya manusia, memang sudah digariskan sebagai tempat
lupa, khilaf, dan salah... maka kita butuh belajar untuk selalu berani mengakui
manakala melakukan kesalahan, entah itu sengaja ataupun tidak sengaja. Karena
pengakuan itu bisa menjadi bendera putih yang dikibarkan, yang berarti
permintaan damai. Tidak ada seorang pun yang boleh “main hakim sendiri”
terhadap orang-orang yang sudah mengaku bersalah. Apalagi sampai dibuat “babak
belur”.
Demikian pula, Allah yang Maha Pengampun tidak akan
mempermasalahkan dosa kita yang sebesar apapun, asalkan kita mengakui bahwa itu
adalah kesalahan, dan kita menyesal atas kesalahan tersebut. Toh keagungan-Nya
tidak tercoreng sedikitpun dengan adanya dosa seluruh makhluk, apalagi dosa
kita seorang. Maka... janganlah berputus asa dari ampunan Allah, akuilah
kesalahan jika memang kita bersalah, selalu bersihkan hati kita dengan taubat.
Semoga “bendera putih” yang kita kibarkan ini dapat menyelamatkan kita dari
hari penghakiman kelak, saat seluruh dosa dan kesalahan kita ditampakkan.
0 komentar:
Posting Komentar